Se Kalimat "Coretan Tinta Merah" Akan Mengukir Seribu Makna Dalam Segala Fenomena Kehidupan.

Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2016

Desmond Tutu












Nama Lengkap        : Desmond Mpilo Tutu
Alias                        : Desmond Tutu
Profesi                     : Tokoh Agama
Tempat Lahir          : Klerksdorp, Transvaal
Tanggal Lahir         : Rabu, 7 Oktober 1931
Zodiac                     : Balance
Warga Negara         : Afrika Selatan

Biografi
Desmond Mpilo Tutu adalah seorang teolog dan humanis yang berasal dari Afrika Selatan. Pria yang lahir di Klerksdorp, Transvaal, Afrika Selatan pada 7 Oktober 1931 ini juga merupakan seorang aktivis yang dikenal luas pada era 1980-an sebagai seorang penentang sistem pemisahan ras, atau lazim disebut dengan paham Apartheid, yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan
Tutu terlahir sebagai seorang anak dari sang ayah yang berprofesi sebagai guru sekolah dan ibu yang tidak sempat mengenyam bangku pendidikan. Anak kecil dengan takdir besar di pundak ini sempat melanjutkan pendidikan di sekolah tingkat atas terkenal milik kaum Bantu, Johannesburg, pada 1945-1950 sebelum memulai karir pertamanya sebagai pengajar di Pretoria Bantu Norm College saat masih berumur 19 tahun. 
Tutu dipilih dan ditahbiskan menjadi Uskup Agung berkulit hitam pertama di Gereja Anglikan, Cape Town, Afrika Selatan. Sebelumnya, peraih penghargaan Nobel bidang Perdamaian ini sempat melayani umat sebagai uskup di kota Lesotho dan Johannesburg. Dukungan terhadap pentasbihan Tutu mengalir dari berbagai kalangan dunia internasional termasuk Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, sendiri yang memberikan penghargaan terhadap Desmond Tutu dengan menyebut Uskup Agung ini sebagai orang yang tidak pernah takut dan selamanya menjadi aspirasi bagi dari semua kelompok yang tertindas.
Dalam pandangan keuskupan Tutu sendiri, gereja memiliki peran penting sebagai model yang memastikan bahwa keadilan dan kedamaian telah ditegakkan. Karenanya, gereja juga memiliki peran kenabian sebagai penyuara kebenaran dan keadilan. Berdasar pahaman ini, Desmond Mpilo Tutu berani melancarkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah Apartheid yang dianggap tidak adil. Dan sepanjang karir keuskupannya, Tutu bukan hanya telah bertindak sebagai serng teolog, melainkan juga humanis yang menolak tegas pandangan yang menilai seseorang berdasarkan warna kulit.
Meski resmi tercatat sebagai warga negara Afrika Selatan, Uskup Agung ini mendarma-baktikan seluruh tenaga dan pemikirannya demi kepentingan dunia internasional. Benar bahwa Tutu mendasarkan teologinya berdasarkan bahasa dan budaya Afrika Selatan serta, tentu saja, berdasarkan sudut pandang seorang penganut Anglikanisme. Namun, hal ini tidak berarti Tutu hanya mampu menjadi suara bagi warga kulit hitam di Afrika Selatan.
Dalam tulisannya mengenai “diabolical policy”, rohaniawan yang mendasari pandangannya pada Teologi Ubuntu atau kemanusiaan ini mengkritik keras kebijakan pemerintah Afrika Selatan dengan menyatakan alih-alih warga kulit hitam diberikan kesempatan untuk memilih dalam kehidupan, malah harus menderita di tanah mereka sendiri. Pandangan kemanusiaan yang sama dari penerima puluhan gelar Doktor Kehormatan ini membuat Tutu memilih merangkul, duduk bersama hingga bekerja (ber)sama 'warga aneh' dari berbagai belahan dunia: kaum terlantar akibat perang dan bencana, kaum gay dan lesbian, komunitas trans-gender, para penderita HIV dan atau 'masyarakat alien' lainnya.
Selama mengepalai Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, Tutu telah merangkul semua orang, baik di Afrika Selatan maupun di penjuru dunia lain, untuk berperan serta dalam upaya mengungkap kebenaran dan rekonsiliasi. Rangkulan, ajakan, dorongan bahkan sindiran Uskup Agung Desmond Tutu terhadap dunia gamblang tergambar dari slogan Komisi tersebut, 'Kebenaran memang menyakitkan, tapi bergeming adalah pembunuhan'.

KARIR
Staf pengajar, Pretoria Bantu Norm College
Aktivis kemanusiaan
Uskup untuk Lesotho
Uskup untuk Johannesburg
Uskup Agung untuk Gereja

PENGHARGAAN
International Advocate for Peace Award, Cardozo School of Law, Amerika Serikat
Honorary Doctorate of Humane Letters, University of Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat
Honorary Doctorate of Humane Letters, Elon University, North Carolina, Amerika Serikat
Honorary Doctorate of Laws, Rhodes University, Afrika Selatan

Golden Plate Award, Academy of Achievement, Amerika Serikat, dan penghargaan lainnya.

Sabtu, 27 Februari 2016

Septinus George Saa, Peraih first Nobel Prize


Septinus George Saa lahir di Manokwari pada 22 September 1986. Sejak kecil, dia sering tinggal berpindah-pindah mengikuti orang tuanya. Bahkan, tak jarang dia hidup terpisah dari orang tua. Oge lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Silas Saa, adalah Kepala Dinas Kehutanan Teminabuhan, Sorong. Oge lebih senang menyebut ayahnya petani ketimbang pegawai. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Silas, dibantu isterinya, Nelce Wofam, dan kelima anak mereka, harus mengolah ladang, menanam umbi-umbian. Kelima anak Silas mewarisi keenceran otaknya. Silas adalah lulusan Sekolah Kehutanan Menengah Atas tahun 1969, sebuah jenjang pendidikan yang tinggi bagi orang Papua kala itu. Minimnya ekonomi keluarga, Oge sering tidak masuk sekolah ketika SD hingga SMP. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 10 km. Oge harus naik “taksi” (angkutan umum) dengan ongkos Rp 1.500 sekali jalan. Itu berarti Rp 3.000 pulang pergi. “Tidak bisa jajan. Untuk naik “taksi” saja mama sering tidak punya uang. Kalau Oge mau makan harus pulang ke rumah,” katanya. Bagi Oge prestasi tidak selalu berarti karena uang. Pemuda yang dikenal sebagai playmaker di lapangan basket ini adalah orang yang haus untuk belajar. Selalu ada jalan untuk orang-orang yang haus seperti Oge. Prestasinya di bidang fisika bukan semata-mata karena ia menggilai ilmu yang menurut sebagian anak muda rumit ini. “Saya tertarik fisika sejak SMP. Tidak ada yang khusus kenapa saya suka fisika karena pada dasarnya saya suka belajar saja. Lupakan saja kata fisika, saya suka belajar semuanya,” katanya. “Semua mata pelajaran di sekolah saya suka kecuali PPKN. Pelajaran itu membosankan dan terlalu banyak mencatat. Saya suka kimia, sejarah, geografi, matematika, apalagi bahasa Indonesia. Saya selalu bagus nilai Bahasa Indonesia,” tambahnya.

Septinus George Saa
Selepas SD dan SMP yang kerap diwarnai bolos sekolah itu, Oge diterima di SMUN 3 Buper Jayapura. Ini adalah sekolah unggulan milik pemerintah daerah yang menjamin semua kebutuhan siswa, mulai dari seragam, uang saku, hingga asrama. Kehausan intelektualnya seperti menemukan oase di sini. Ia mulai mengenal internet. Dari jagad maya ini ia mendapat macam-macam teori, temuan, dan hasil penelitian para pakar fisika dunia.
Kebrilianan otak mutiara hitam dari timur Indonesia ini mulai bersinar ketika pada 2001 ia menjuarai lomba Olimpiade Kimia tingkat daerah. Karena prestasinya itu, ia mendapat beasiswa ke Jakarta dari Pemerintah Provinsi Papua. Namun mamanya melarang putera bungsunya berangkat ke Ibu Kota. Prestasi rupanya membutuhkan sedikit kenakalan dan kenekatan. Dibantu kakaknya, Frangky, Oge berangkat diam-diam. Ia baru memberitahu niatnya kepada mama tercinta sesaat sebelum menaiki tangga pesawat. Mamanya menangis selama dua minggu menyadari anaknya pergi meninggalkan tanah Papua.
Oge kemudian membuktikan bahwa kepergiannya bukan sesuatu yang sia-sia. Tangis sedih mamanya berganti menjadi tangis haru
ketika November 2003 ia menduduki peringkat delapan dari 60 perserta lomba matematika kuantum di India. Prestasinya memuncak tahun ini dengan menggenggam emas hasil riset fisikanya. Mamanya pun tidak pernah menangis lagi. “Saya ingin jadi ilmuwan. Sebenarnya ilmu itu untuk mempermudah hidup. Ilmu pengetahuan dan teknologi itu membuat hidup manusia menjadi nyaman. Saya berharap kalau saya menjadi ilmuwan, saya dapat membuat hidup manusia menjadi lebih nyaman,” kata dia.
Orang tak akan mengira, Oge yang sekarang remaja 18 tahun ini, yang kerap terpaksa tidak masuk sekolah – karena orangtuanya tak mampu memberi ongkos jalan Rp 1.500 untuk perjalanan 10 km antara rumah dan sekolah – ini mampu unjuk gigi di arena internasional  tingkat pelajar. Medali emas “The First Step to Nobel Prize in Physics 2004″ disabetnya lewat hasil experimen fisikanya. Karya ilmiah tersebut berhasil menyisihkan ratusan makalah lainnya dari 73 negara. Bahkan 30 juri dari 25 negara yang diketuai Prof. Waldemar Gorzkowzski dari Polandia yang memberikan penilaian, tak ada satupun yang menentang.Hasil penelitian Oge sebenarnya sederhana, tetapi bisa mempunyai manfaat kelak jika dikembangkan lebih jauh. Lewat tulisannya di harian Kompas, Dr Kebamoto, ahli fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, menilai eksperimen fisika Oge ini boleh jadi akan menjadi langkah awal pengungkapan misteri struktur sarang tawon yang berbentuk heksagon. Struktur sarang tawon dikenal bisa membuat berbagai material-seperti grafit atau nanokomposit-menjadi memiliki sifat fisika yang aneh -aneh, seperti daya hantar listrik tinggi, tahan terhadap suhu tinggi, dan kekuatan mekaniknya 500 kali dari baja. Padahal, pada bahan yang sama, jika strukturnya tak sarang tawon, sifat fisika seperti disebut di atas tidak akan tampak.
Bisa dibayangkan, seorang murid kelas 3 SMU Negeri Buper, Jayapura, bisa menurunkan persamaan rumit itu ke dalam formula sederhana. Dengan rumusnya itu, ia bisa menghitung hambatan (resistensi) di antara dua titik dalam sebuah rangkaian sarang tawon. Padahal, menurut Kebamoto, karena rumit dan solusi analitisnya sulit ditentukan, Oge harus belajar terlebih dulu soal analisis numerik dan program komputer yang bisa menyelesaikan kasus itu. Semua ini biasanya baru dipelajari mahasiswa tahun ke-3.
Perjalanan hidup Oge membuat rumus yang layak ia klaim sebagai “George Saa Formula” sebenarnya berawal dari terpilihnya ia bersama dengan empat siswa lain oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk ikut Olimpiade Fisika. Saat itulah ia mulai berkenalan dengan pelatihan tiga bulan yang dilakukan Tim Olimpiade Fisika di Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang. Hasilnya, ia dikirim keIndia, mengikuti lomba fisika, di mana Oge memperoleh gelar honourable. Berikutnya, ia menghasilkan makalah berjudul “Apakah Elektron merupakan Partikel atau Gelombang?” yang merupakan hasil tinjauan ulang atas berbagai makalah yang pernah ditulis sejumlah ilmuwan. Dari makalah yang dinilai biasa saja, tetapi penjelasan dan cara menyimpulkannya menarik. Yohanes Surya-guru besar UPH yang juga Ketua Tim Olimpiade Fisika-mulai melihat adanya potensi pada diri Oge. Dari situlah, Oge mulai meneliti soal penghitungan hambatan pada struktur sarang tawon.
Jika menilik ke belakang, apa yang dihasilkan Oge bukannya tanpa hambatan. Untuk mengikuti lomba ilmiah tingkat pelajar di luar daerahnya bukanlah hal mudah. Beruntung ia memiliki kakak yang bisa diajak “bersekutu”. Adalah Franky Albert Saa, kakak Oge yang tertua, yang secara diam-diam mempersiapkan kepergian adiknya ke Jakarta setelah Oge menjuarai lomba Olimpiade Kimia tingkat daerah tahun 2001. Sang ibu rupanya tidak rela berpisah dari si bungsu yang dilahirkan 22 September 1986 ini. Persis menjelang Oge akan melangkah menuju pesawat, baru kabar itu disampaikan kepada Nelce. Keruan tangis Nelce pun pecah dan itu berlangsung sampai dua pekan.
Bagi Oge, masa sulit bersekolah praktis terlewati begitu ia diterima di SMUN 3 Buper Jayapura, sebuah sekolah unggulan milik Pemerintah Provinsi Papua, yang dikhususkan untuk menampung siswa berprestasi. Di sekolah itu pula, Oge mulai mengenal internet, yang menjadi sumber inspirasi penulisan risetnya. Dari internet juga, ia mendapat bermacam-macam teori, temuan, dan hasil penelitian para ahli fisika dunia yang mengilhami Oge dalam menurunkan rumusnya. Itulah yang membuat dia berkomentar, “UANG BUKAN SEGALA-GALANYA UNTUK MAJU. SELALU ADA JALAN UNTUK MENIMBA ILMU.” Karena itu pula, ia berharap para remaja Papua juga dapat melakukan hal serupa dan tidak perlu resah dengan urusan uang. “ORANG PAPUA BANYAK YANG HEBAT DAN MEMILIKI OTAK BRILIAN. TETAPI, MEREKA SELALU MELIHAT UANG SEBAGAI HAMBATAN. PADAHAL, YANG PENTING KAN KEMAUAN DAN SEMANGAT KERJA KERAS,” ujar remaja yang juga mendapat kesempatan belajar riset di PolishAcademy ofScience di Polandia selama satu bulan.
Kesempatan itu tentu saja amat diimpi – impikan Oge yang bercita-cita meraih Nobel bidang fisika kelak. “Saya memang masih harus bekerja keras, disiplin, dan terus mencari yang terbaik untuk sampai kesana,” katanya.Di Jakarta, ia digembleng khusus oleh Bapak Fisika Indonesia, Profesor Yohanes Surya. Awal November 2006 ia harus mempresentasikan hasil risetnya di depan ilmuwan fisika di Polandia. Ia harus membuktikan bahwa risetnya tentang hitungan jaring-jaring resistor itu adalah orisinil gagasannya. Setelah itu, ia akan mendapat kesempatan belajar riset di Polish Academy of Science di Polandia selama sebulan di bawah bimbingan fisikawan jempolan. Setelah menerima penghargaan itu, George diganjar banyak fasilitas. Menteri pendidikan saat itu, Malik Fadjar, meminta George memilih perguruan tinggi mana pun di Indonesia tanpa tes. Kampus tempat dia kuliah juga diwajibkan memberikan fasilitas belajar.

Referensi :
– http://www.astrodigi.com/2010/08/septinus-george-saa-anak-petani-papua.html
– http://id.wikipedia.org/wiki/Septinus_George_Saa
– http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1085284643


Senin, 22 Februari 2016

Ernesto Guevara de la Serna


250px-CheHigh
Ernesto Guevara de la Serna 14 Juni 1928–9 Oktober 1967

Nama lain: Che

Tanggal lahir: 14 Juni 1928

Tempat lahir: Rosario, ArgentinaTanggal kematian: 9 Oktober 1967 (umur 39)

Tempat kematian: La Higuera, Bolivia

Organisasi utama: Gerakan 26 Juli

Ernesto Guevara Lynch de La Serna (lahir di Rosario, Argentina, 14 Juni 1928 – wafat di Bolivia, 9 Oktober 1967 pada umur 39 tahun) adalah pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin gerilya Kuba.

Guevara dilahirkan di Rosario, Argentina, dari keluarga berdarah campuran Irlandia, Basque dan Spanyol. Tanggal lahir yang ditulis pada akta kelahirannya yakni 14 Juni 1928, namun yang sebenarnya adalah 14 Mei 1928.

Masa kecil
Sejak usia dua tahun Che Guevara mengidap asma yang diderita sepanjang hidupnya. Karena itu keluarganya pindah ke daerah yang lebih kering, yaitu daerah Alta Gracia (Córdoba) namun kesehatannya tidak membaik. Pendidikan dasar ia dapatkan di rumah sebagian dari ibunya, Celia de la Serna. Pada usianya yang begitu muda, Che Guevara telah menjadi seorang pembaca yang lahap. Ia rajin membaca literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud yang ada di perpustakaan ayahnya. Memasuki sekolah menegah pertama (1941) di Colegio Nacional Deán Funes (Córdoba). Di sekolah ini dia menjadi yang terbaik di bidang sastra dan olahraga. Di rumahnya, Che Guevara tergerak hatinya oleh para pengungsi perang saudara Spanyol, juga oleh rentetan krisis politik yang parah di Argentina. Krisis ini memuncak di bawah pemerintahan diktator fasis kiri, Juan Peron, seorang yang ditentang Guevara. Berbagai peristiwa tertanam kuat dalam diri Guevara, ia melihat sebuah penghinaan dalam pantomim yang dilakonkan di Parlemen dengan demokrasinya. Maka muncul pulalah kebenciannya akan politisi militer beserta kaum kapitalis dan terutama kepada dolar Amerika Serikat ,yang dianggap sebagai lambang kapitalisme.
Meski demikian dia sama sekali tidak ikut dalam gerakan pelajar revolusioner. Ia hanya menunjukkan sedikit minat dalam bidang politik di Universitas Buenos Aires, (1947), tempat ia belajar ilmu kedokteran. Pada awalnya ia hanya tertarik memperdalam penyakitnya sendiri, namun kemudian dia tertarik pada penyakit kusta.

Berkeliling Argentina dengan sepeda motor
Pada tahun 1949 ia memulai perjalanan panjangnya yang pertama, menjelajahi Argentina Utara hanya dengan bersepeda motor. Itulah untuk pertama kalinya ia bersentuhan langsung dengan orang miskin dan sisa suku Indian. Selanjutnya pada tahun 1951 setelah menempuh ujian-ujian pertengahan semester Che mengadakan perjalanan yang lebih panjang didampingi dengan seorang teman dan untuk nafkah hidupnya dia bekerja sebagai pekerja paruh waktu. Ia mengunjungi Amerika Selatan, Chili di mana dia bertemu Salvador Allende, dan di Peru ia bekerja sama selama beberapa minggu di Leprasorium San Pablo, di Kolombia ia tiba pada saat La Violencia, di Venezuela ia ditangkap tetapi dilepaskan kembali, kemudian ia juga mengunjungi Miami. Che Guevara mengisahkan perjalanannya dalam buku harian yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul Buku Harian Sepeda Motor (The Motorcycle Diaries), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 1996 dan kemudian difilmkan dengan judul yang sama pada 2004.
Perjalanan Che Guevara
Ia kembali ke daerah asalnya dengan sebuah keyakinan bulat atas satu hal bahwa ia tidak mau menjadi profesional kelas menengah dikarenakan keahliannya sebagai seorang spesialis kulit. Kemudian pada masa revolusi nasional ia pergi ke La Paz, Bolivia di sana ia dituduh sebagai seorang oportunis. Dari situ ia melanjutkan perjalanan ke Guatemala dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan menulis artikel arkeologi tentang reruntuhan Indian Maya dan Inca. Guatemala saat itu diperintah oleh Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang seorang sosialis. Meskipun Che telah menjadi penganut paham marxisme dan ahli sosial Lenin ia tak mau bergabung dalam Partai Komunis. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan baginya untuk menjadi tenaga medis pemerintah, oleh karena itu ia menjadi miskin. Ia tinggal bersama Hilda Gadea, penganut paham Marxis keturunan Indian lulusan pendidikan politik. Orang inilah yang memperkenalkannya kepada Nico Lopez, salah satu Letnan Fidel Castro. Di Guatemala dia melihat kerja agen CIA sebagai agen kontrarevolusi dan semakin yakin bahwa revolusi hanya dapat dilakukan dengan jaminan persenjataan. Ketika Presiden Arbenz turun jabatan, Guevara pindah ke Kota Mexico (September 1954) dan bekerja di Rumah Sakit Umum, diikuti Hilda Gadea dan Nico Lopez. Guevara bertemu dan kagum pada Raúl Castro dan Fidel Castro juga para emigran politik dan ia menyadari bahwa Fidel-lah pemimpin yang ia cari.
Bergabung dengan Fidel Castro di Kuba
Ia bergabung dengan pengikut Castro di rumah-rumah petani tempat para pejuang revolusi Kuba dilatih perang gerilya secara keras dan profesional oleh kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo, seorang pengarang "Ciento cincuenta preguntas a un guerilleo" (Seratus lima puluh pertanyaan kepada seorang gerilyawan) di Havana, tahun 1959. Bayo tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong dan Che (dalam bahasa Italia berarti teman sekamar dan teman dekat) menjadi murid kesayangannya dan menjadi pemimpin di kelas. Latihan perang di tanah pertanian membuat polisi setempat curiga dan Che beserta orang-orang Kuba tersebut ditangkap namun dilepaskan sebulan kemudian.
Pada bulan Juni 1956 ketika mereka menyerbu Kuba, Che pergi bersama mereka, pada awalnya sebagai dokter namun kemudian sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos. Ia yang paling agresif dan pandai dan paling berhasil dari semua pemimpin gerilya dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran Lenin kepada anak buahnya. Ia juga seorang yang berdisiplin kejam yang tidak sungkan-sungkan menembak orang yang ceroboh dan di arena inilah ia mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin dalam eksekusi massa pendukung fanatik presiden yang terguling Batista. Pada saat revolusi dimenangkan, Guevara merupakan orang kedua setelah Fidel Castro dalam pemerintahan baru Kuba dan yang bertanggung jawab menggiring Castro ke dalam komunisme yang menuju komunisme merdeka bukan komunisme ortodoks ala Moskwa yang dianut beberapa teman kuliahnya. Che mengorganisasi dan memimpin "Instituto Nacional de la forma Agraria", yang menyusun hukum agraria yang isinya menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah), mendirikan Departemen Industri dan ditunjuk sebagai Presiden Bank Nasional Kuba dan menggusur orang orang komunis dari pemerintahan serta pos-pos strategis. Ia bertindak keras melawan dua ekonom Perancis yang beraliran Marxis yang dimintai nasehatnya oleh Fidel Castro dan yang menginginkan Che bertindak lebih perlahan. Che pula yang melawan para penasihat Uni Soviet. Dia mengantarkan perekonomian Kuba begitu cepat ke komunisme total, menggandakan panen dan mendiversifikasikan produksi yang ia hancurkan secara temporer.
Pernikahan Che Guevara
Pada tahun 1959, Guevara menikahi Aledia March, kemudian berdua mengunjungi Mesir, India, Jepang, Indonesia yang juga hadir pada Konfrensi Asia Afrika, Pakistan dan Yugoslavia. Sekembalinya ke Kuba ia diangkat sebagai Menteri Perindustrian, menandatangani pakta perdagangan (Februari 1960) dengan Uni Soviet yang melepaskan industri gula Kuba pada ketergantungan pasar Amerika. Ini merupakan isyarat akan kegagalannya di Kongo dan Bolivia sebuah aksioma akan sebuah kekeliruan yang tak akan terelakkan. "Tidaklah penting menunggu sampai kondisi yang memungkinkan sebuah revolusi terwujud sebab fokus instruksional dapat mewujudkannya" ucapnya dan dengan ajaran Mao Ze Dong ia percaya bahwa daerah daerah pasti membawa revolusi ke kota yang sebagian besar penduduknya adalah petani. Juga pada saat ini ia menyebarkan filosofi komunisnya (diterbitkan kemudian dalam "The Socialism and Man in Cuba", 12 Maret 1965). Ia meringkas pahamnya menjadi "Manusia dapat sungguh mencapai tingkat kemanusiaan yang sempurna ketika berproduksi tanpa dipaksa oleh kebutuhan fisiknya sehingga ia harus menjual dirinya sebagai barang dagangan".
Konfrontasi dengan Uni Soviet
Penentangan resminya terhadap komunis Uni Soviet tampak ketika dalam organisasi untuk Solidaritas Asia Afrika di Aljazair (Februari 1965) menuduh Uni Soviet sebagai kaki tangan imperialisme dengan berdagang tak hanya dengan negara-negara blok komunis dan memberikan bantuan pada negara berkembang sosialis atas pertimbangan pengembaliannya. Ia juga menyerang pemerintahan Soviet atas kebijakan hidup bertetangga dan juga atas Revisionisme. Guevara mengadakan konferensi Tiga Benua untuk merealisasikan program revolusioner, pemberontakan, kerjasama gerilya dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Di samping itu setelah terpaksa berhubungan dengan Amerika Serikat, ia sebagai perwakilan Kuba di PBB menyerang negara-negara Amerika Utara atas keserakahan mereka dan imperialisme yang kejam di Amerika Latin.
Sikap Che yang tidak kenal kompromi pada dua negara kapitalis mendorong negara komunis untuk memaksa Castro memberhentikan Che (1965, bukan secara resmi tetapi secara nyata. Untuk beberapa bulan tempat tinggalnya dirahasiakan dan kematiannya santer diisukan. Ia berada di berbagai Negara Afrika terutama Kongo di mana dia mengadakan survei akan kemungkinan mengubah pemberontakan Kinshasa menjadi sebuah revolusi komunis dengan taktik gerilya Kuba. Ia kembali ke Kuba untuk melatih para sukarelawan untuk proyek ini dan mengirim kekuatan 120 orang Kuba ke Kongo. Anak buahnya bertempur dengan sungguh-sungguh tetapi tidak demikian halnya dengan para pemberontak Kinshasa. Mereka sia-sia saja melawan kekejaman Belgia dan ketika musim gugur 1965 Che meminta Castro untuk menarik mundur saja bantuan Kuba.

Kematian Che Guevara
Petualangan revolusioner terakhir Che adalah di Bolivia, karena ia salah memperkirakan potensi negara itu yang mengakibatkan konsekuensi yang buruk. Tertangkapnya Che oleh tentara Bolivia pada 8 Oktober 1967 adalah akhir dari segala usahanya dan hukuman tembak dijatuhkan sehari setelah itu.
Pada tanggal 12 Juli 1997 jenazahnya dikuburkan kembali dengan upacara kemiliteran di Santa Clara, di provinsi Las Villas, di mana Guevara mengalami kemenangan dalam pertempuran ketika revolusi Kuba.
Che menjadi legenda. Ia dikenang karena keganasannya, penampilannya yang romantis, gayanya yang menarik, sikapnya yang tak kenal kompromi dan penolakan atas penghormatan berlebihan atas semua reformasi murni dan pengabdiannya untuk kekejaman dan sikapnya yang flamboyan. Ia juga idola para pejuang revolusi dan bahkan kaum muda generasi tahun 1960-1970 atas tindakan revolusi yang berani yang tampak oleh jutaan orang muda sebagai satu-satunya harapan dalam perombakan lingkup borjuis kapitalisme, industri dan komunisme.

Penghormatan terhadap Che Guevara
Berbagai tokoh sastra, musik dan seni telah mempersembahkan komposisinya kepada Che Guevara. Penyair Chili Pablo Neruda mempersembahkan kepadanya puisi Tristeza en la muerte de un héroe (Kesedihan karena kematian seorang pahlawan) dalam karyanya Fin del mundo (Akhir dunia) pada 1969. Pengarang Uruguay, Mario Benedetti menerbitkan pada 1967 serangkaian puisi yang dipersembahkan kepadanya dengan judul A Ras del Sueño (Pada tingkat impian). Penyanyi Carlos Puebla mempersembahkan sebuah lagu Hasta siempre comandante Che Guevara (Untuk selamanya komandan Che Guevara) dan Los Fabulosos Cadillacs, Gallo Rojo (Ayam jantan merah), yang muncul dalam album El León (Singa) pada 1991.
Lihat pula
The Motorcycle Diaries – catatan harian Che Guevara semasa perantauannya di Amerika Selatan.
The Motorcycle Diaries (film) (Diarios de motocicleta) – film tahun 2004 yang diangkat dari catatan harian Guevara.
Pranala luar
[sunting] Situs dokumentasi
yang dikerjakan oleh Guevara, foto-foto Guevara, dll.
Che, Guía y Ejemplo
Biografi, gambar, dan suara
The Che Guevara arsip internet – tulisan, foto, dan pidato
ElCheVive.com – lebih dari 200 foto and dan informasi lain dalam tiga bahasa (Inggris, Spanyol dan Belanda)
El-Comandante.com – biografi, foto, dan tulisan tentang Che Guevara
The Death of Che Guevara: Declassified, National Security Archive
Bolivia on the Day of the Death of Che Guevara, oleh Richard Gott dan foto oleh Brain Moser (Dipublikasikan di Le Monde diplomatique, 11 Agustus 2005)
Che Guevara – biografi, foto, dan tulisan tentang Che Guevara
kutipan 4 menit pidato Che di PBB pada 11 Desember 1964, dalam format RealPlayer Klik untuk dengar
kutipan pendahuluan pidato Che di PBB pada 11 Desember 1964 dalam format .wav Klik untuk dengar
Guerrillero heroico – informasi, artikel, foto, beberapa ebooks tentang Che Guevara dalam bahasa Inggris, Spanyol dan Rusia
Forum
Che-Lives, sebuh situs yang didedikasikan untuk Che Guevara, mencakup wilayah diskusi revolutionary leftist.
Forum diskusi lain The Rebel Alliance Leftist Community.

Catatan kaki
1. ^ Tanggal kelahiran yang dicatat di sertifikat kelahirannya adalah 14 Juni 1928, meskipun sebuah sumber ketiga (Julia Constenla, dikutip oleh Jon Lee Anderson) menegaskah bahwa ia sesungguhnya dilahirkan pada tanggal 14 Mei tahun yang sama (Constenla menyatakan bahwa ia diberitahukan oleh seorang astrolog yang tak disebutkan namanya bahwa ibunda Che, Celia de la Serna, sudah hamil ketika ia dan Ernesto Guevara Lynch menikah dan bahwa tanggal kelahiran anak mereka ditulis sebulan setelah tanggal yang sebenarnya untuk menghindari skandal). Sumber: Anderson, Jon Lee. Che Guevara: A Revolutionary Life, New York: 1997, Grove Press, hlm. 3 dan 769.

Postingan Lama Beranda

Media Text

Media Text

Profil Text

Seiring dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Tegnologi (IPTEK), belahan dunia lain (terutama Negara-negara Maju) berlomba-lomba meraih Impian yang di dambakan pada setiap Negara. Belahan dunia lain masih terbelakng; hal ini melatarbelakangi dari berbagai faktor; salah satunya adalah terbatasnya layanan IPTEK terhadap masyarakat umum. Melihat segala fenomena dalam kehidupan bangsa dan negara, maka Blogspot "WAIKATO NEWS" hadir untuk mencoba mengemukakan Opini, gagasan, ide melalui tulisan dari berbagai aspek kehidupan.

 

Translate

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Visitor

Flag Counter

Music Papua

Post Populer

 

Templates by Kidox Van Waikato | CSS3 by David Walsh | Powered by {N}Code & Blogger